Efraim Rumkoren (45) masih menyimpan ingatan yang sulit dihapus: saat desanya diterjang “banjir dari laut” yang belakangan ia kenali sebagai tsunami. Usianya saat itu sekitar 15 tahun. Dia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ketika gelombang itu datang tanpa aba-aba.








