Peristiwa tsunami yang berpusat di pantai utara pulau Biak, pulau-pulau di sekitarnya itu terjadi pada tanggal 17 Februari 1996. Gempa utama terjadi kira-kira pukul 12.59 WIT, dengan kekuatan sekitar 8,2 Moment Magnitude (Mw), akibat aktivitas tektonik lempeng Samudera Pasifik. Di beberapa tempat di lokasi pesisir, ketinggian gelombang mencapai hingga tinggi 7 meter.
Dalam kepanikan di sore itu, Efraim mencari tempat tertinggi yang bisa ia jangkau. Dia menemukan sebatang pohon, lalu bersama saudaranya, dia memanjat hingga sekitar sepuluh meter. Di atas sana, mereka bertahan berjam-jam, menunggu air surut.
Ketika gelombang akhirnya mereda, ia turun dan menyaksikan wajah kampungnya, Kampung Tanjung Barari—yang oleh warga juga disebut Menurwar—Distrik Oridek, Kabupaten Biak Numfor, Papua telah berubah. Banyak kerusakan terjadi, meski syukurnya tidak ada korban jiwa.
Peristiwa itu tertanam kuat dalam ingatannya—bukan sekadar sebagai bencana, tetapi sebagai titik balik yang kelak membentuk cara pandangnya terhadap alam.


